Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

BI Naikkan Suku Bunga Saat Inflasi Melandai, Analis: Pasar Jadi Bingung

LAPORAN: RAIZA ANDINI
  • Selasa, 22 November 2022, 03:58 WIB
BI Naikkan Suku Bunga Saat Inflasi Melandai, Analis: Pasar Jadi Bingung
Ilustrasi/Net
Langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebanyak 50 basis poin ke 5,25 persen dalam rangka menjaga stabilitas rupiah justru dinilai membuat pasar menjadi bingung.

“Karena data inflasi menunjukkan deflasi, atau tekanan inflasi mulai mereda. Namun, BI melakukan ini untuk menjaga rupiah, melakukan intervensi, khawatir jika imbasnya ke perekonomian,” ucap Chief Analyst DCFX Futures, Lukman Leong, Senin (21/11).

Dengan data inflasi yang mulai mereda, harusnya BI lebih fokus kepada penanganan inflasi bukan mata uang. Mata uang rupiah, kata Lukman Leong, memang melemah tetapi tidak akan dibawah Rp 16.000.

“Saya kira BI tetap fokus kenaikan suku bunga berdasarkan ekspektasi inflasi. Memang saya pikir  mata uang stabil, agak melemah masih dalam batas wajar. Negara mana yang bisa mempertahankan mata uang mereka sekarang ini,” tuturnya.

Lukman menambahkan, bulan depan, Bank Sentral Amerika, The Fed akan melakukan pertemuan terakhir. Diperkirakan aksi menaikkan suku bunga gila-gilaan akan berakhir.

“Pertanda bagus, bisa jadi dolar AS terkoreksi. Namun ini masih proyeksi ya,” imbuhnya.

Kemudian dengan suku bunga acuan yang naik, berdampak pada kredit, pertumbuhan usaha, dan impor. Sementara itu masyarakat bisa ‘mengamankan’ uang mereka agar tidak tergerus inflasi. Mengamankan aset mereka di tempat yang likuid sambil menunggu tren kenaikan suku bunga tinggi selesai.

“Berakhirnya era suku bunga yang tinggi, mungkin dalam enam bulan ke depan itu jelas, akan berhenti, di mana investasi akan sangat bagus di saham,“ tandas Lukman.

Sementara itu Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menilai kenaikan suku bunga merupakan langkah pre-emptive untuk menjangkar ekspektasi inflasi, sehingga inflasi inti pada 2023 kembali dalam sasaran inflasi BI.

"Keputusan kenaikan suku bunga juga ditujukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen arah suku bunga Fed," terangnya.

Menurutnya, kenaikan itu juga akan berpengaruh pada perekonomian domestik. Beberapa sektor yang terpengaruh adalah investasi sektor usaha dan belanja masyarakat.

"Berpotensi berdampak pada perekonomian domestik terutama dari sisi cost of borrowing yang selanjutnya juga mempengaruhi konsumsi masyarakat dan investasi sektor usaha," tambahnya.

Sementara itu, ekonom Bank BCA David Sumual mengatakan, pelemahan rupiah masih dalam batas wajar. Menurutnya, dengan melemahnya rupiah terhadap dollar, akan muncul inflasi dari segi impor. Kemudian pengusaha yang masih belanja impor dengan dollar, harus bisa mengamankan nilai mereka.

David menambahkan, memantau aksi The Fed,  spread antara suku bunga rupiah dan dollar Amerika harus dijaga tetap menarik di tengah masih berlanjutnya ekspektasi kenaikan Fed rate.

 “Tekanan terhadap Rupiah sebenarnya masih tergolong manageable dibanding negara Emerging Market lain yang banyak kelemahannya sudah double digit,” demikian David.
EDITOR: AGUS DWI

ARTIKEL LAINNYA