Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Murah tapi Tidak Murahan, Arya Sinulingga Ungkap Tiga Fakta Rights Issue BBTN

LAPORAN: DIKI TRIANTO
  • Rabu, 16 November 2022, 11:59 WIB
Murah tapi Tidak Murahan, Arya Sinulingga Ungkap Tiga Fakta Rights Issue BBTN
Staf khusus Menteri Negara BUMN, Arya Mahendra Sinulingga/Net
Rights issue PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) dinilai akan sangat berbeda dibanding dengan perbankan lain.

Menurut Staf khusus Menteri Negara BUMN, Arya Mahendra Sinulingga, rights issue BTN menarik karena aksi korporasi tersebut terakhir kali dilakukan BTN pada tahun 2012 lalu.

"Dan yang melakukannya adalah institusi perbankan dengan fokus bisnis yang spesifik karena menjalankan penugasan negara,” ujar Arya kepada wartawan, Rabu (16/11).

Ada tiga fakta menarik yang perlu dicermati investor terkait rights issue BTN. Pertama, efek dilusi. Keputusan Kementerian BUMN yang mengizinkan BTN melakukan rights issue adalah bentuk apresiasi pemegang saham pengendali terhadap investor publik untuk meningkatkan atau mempertahankan porsi kepemilikan di bank ini.

“Jika opsinya private placement (tanpa HMETD), investor publik justru kehilangan haknya untuk mempertahankan prosentase kepemilikan. Kami tidak memilih opsi ini sebagai bentuk terima kasih atas dukungan investor publik selama ini,” kata Arya.       

Mengacu ke prospektus awal, investor yang tidak melaksanakan (exercise) hak nya dalam rights issue ini akan terkena efek dilusi.

“Jadi, akan rugi kalau investor tidak eksekusi rights,” tegas Arya.

Fakta kedua, kata Arya, saham Bank BTN murah tapi tidak murahan. Kinerja keuangannya bagus dan terus bertumbuh. Saham BBTN undervalued/i> dan sama sekali tidak mencerminkan fundamental kinerjanya. Intinya, performa harga saham belum sejalan dengan kinerja keuangannya.

“PBV Bank Himbara lain sudah di atas 2x, BBTN baru 0,76x. Hanya soal waktu, PBV BBTN akan sejajar dengan para sejawatnya, apalagi perolehan laba bersih terus meningkat dari waktu ke waktu dan fokus perusahaan di KPR bersubsidi,” papar Arya.

Fakta ketiga adalah prospek bisnis BBTN. Arya menjelaskan, banyak yang mengkhawatirkan kredit properti akan melambat imbas kenaikan inflasi dan suku bunga tinggi.

“Soal inflasi dan suku bunga, memang demikian faktanya. Tapi dampak ke setiap bank, belum tentu sama apalagi urusan kredit perumahan. Tidak bisa digeneralisasi karena kondisi masing masing bank sangat berbeda,” jelasnya.

Melihat tiga faktor tersebut, wajar jika banyak sekuritas yang merekomendasikan buy untuk saham BBTN. Salah satunya RHB Sekuritas yang mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp 2.450 per saham.

Target tersebut merefleksikan kian pesatnya peningkatan laba bersih perseroan setelah rights issue dan penjualan aset tuntas tahun ini.

Analis RHB Sekuritas Indonesia Ryan Santoso dan Andrey Wijaya mengatakan, masuknya dana segar baru dari pelaksanaan rights issue akan mengerek capital adequacy ratio (CAR) BTN menjadi sekitar 19%-20%, dibandingkan catatan September 2022 sebesar 17,3%.
EDITOR: DIKI TRIANTO

ARTIKEL LAINNYA