Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Ternyata, Jepang Menggemari Jengkol dan Petai Indonesia

LAPORAN: AGUS DWI
  • Senin, 30 Agustus 2021, 20:21 WIB
Ternyata, Jepang Menggemari Jengkol dan Petai Indonesia
Pelepasan ekspor perdana jengkol dan petai asal Sumut ke Jepang/Ist
Bagi sebagian orang, jengkol dan petai, adalah produk pertanian yang dihindari karena baunya yang cukup menyengat. Namun, bagi sebagian yang lain, jengkol dan petai adalah bahan olahan favorit untuk dijadikan masakan yang menggugah selera.

Dan ternyata, tak hanya masyarakat Indonesia saja yang menggemari jengkol dan petai. Masyarakat Jepang juga cukup menggemarinya.

Hal ini terlihat dari ekspor perdana 4 ton jengkol dan petai asal Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menuju Jepang pada akhir pekan lalu. Ekspor perdana ini dilakukan Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Belawan.

Komoditas asal subsektor hortikultura ini telah melalui serangkaian tindakan karantina dan telah dipastikan memenuhi persyaratan teknis negara tujuan oleh pejabat karantina, dan diberangkatkan melalui Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara.

"Tidak hanya digemari di pasar dalam negeri, jengkol dan petai asal Sumut pun siap memasuki pasar Jepang untuk memenuhi permintaan," kata Kepala Karantina Pertanian Belawan, Andi Yusmanto di Berastagi, Sabtu kemarin (28/8).

Menurut Andi, sejalan dengan program strategis Kementerian Pertanian yang digagas Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berupa peningkatan ekspor pertanian dengan gerakan tiga kali lipat ekspor pertanian atau Gratieks, pihaknya terus menggali komoditas potensi dan melakukan pendampingan teknis, agar dapat tembus persyaratan dan protokol ekspor negara tujuan.

Ditambahkan Andi, komoditas yang diekspor perdana dan bernilai Rp 339 juta ini telah mampu menembus persyaratan negara Jepang yang cukup ketat.

"Alhamdulilah, secara kinerja ekspor pertanian asal Sumut, dari data sertifikasi kami pada Semester 1-2021, mengalami peningkatan nilai ekspor sebesar 43,3 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya," papar Andi, dikutip Kantor Berita RMOLSumut, Senin (30/8).

Tidak hanya itu, jumlah eksportir dan jumlah negara tujuan mengalami peningkatan. Hal ini tentu dapat menambah semangat pelaku agribisnis khusunya para petani, peternak, dan pekebun di Sumut, tambahnya.

Dari IQFAST, data lalu lintas ekspor di Karantina Pertanian Belawan, pada saat yang bersamaan juga turut dilepas 22 ragam komoditas pertanian asal Sumut lainnya.

Mulai dari Pinang Biji, Kopi Biji, Palm Kernel Oil, Minyak Sawit, Santan Kelapa, Sayuran Sawi, Nipah, Cabe Jamu, Manisan Kelapa, Damar Batu, Palm Kernel Sterain, Hydrogenate Palm Kernel Olein, Kelapa Parut, Andaliman, Kayu karet, Buah Durian, Kulit Buah Manggis, Sayuran Kubis, Bunga Krisan, Tepung Tapioka, Bungkil Jagung, dan Kayu Olahan.

Sementara seluruh komoditas ekspor yang diberangkatkan dari Pelabuhan Belawan akan menuju 18 negara tujuan ekspor. Yakni China, Iran, Thailand, Amerika Serikat, Vietnam, Senegal, Malaysia, Taiwan, Uni Emirat Arab, Brasil, India, Chile, Korea Selatan, Jerman, Jepang, dan Filipina.

Dorong Ekspor Komoditas Pertanian


Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Bambang, mengapresiasi munculnya ragam komoditas ekspor berupa jengkol dan petai asal Sumatera Utara.

Ia berharap, petani dan pelaku usaha di Berastagi, Kabupaten Karo, dapat meningkatkan produktivitas dan bersinergi dengan pihaknya untuk dapat menembus negara tujuan lain.

“Dengan memberikan kemudahan bagi eksportir dalam perizinan supaya proses ekspornya cepat, dapat mendorong tumbuhnya komoditas eksportir dan negara tujuan baru. Dan tentunya dengan tetap menjaga keamanan dan kualitas komoditas yang diekspor sesuai dengan persyaratan negara tujuan,” papar Bambang melalui telewicara, yang ditandai dengan penyerahan sertifikat ekspor karantina atau Phytosanitari Certificate (PC) kepada PT Surya Elok Sejahtera oleh Kepala Karantina Pertanian Belawan, Andi Yusmanto.

Penyerahan tersebut didampingi Kepala Kantor Bea Cukai Pelabuhan Belawan dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo.

Bambang menambahkan, melalui tindakan karantina, seluruh produk pertanian yang akan diekspor dipastikan telah memenuhi persyaratan internasional tentang sanitari dan fitosanitari sehingga memiliki daya saing di pasar global.

"Ekspor perdana petai dan jengkol ini juga dapat menjadi bukti bahwa sinergisitas para pelaku pembangunan pertanian di Sumut terjalin dengan baik," pungkas Bambang.
EDITOR: AGUS DWI

ARTIKEL LAINNYA