Asean Korea Coopertion Onwards
ASEAN-KOREA Cooperation Upgrade
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Refleksi dan Ekspektasi: Kualitas Sumber Daya Manusia Sebagai Bangsa Merdeka?

LAPORAN: AHMAD SATRYO
  • Rabu, 18 Agustus 2021, 16:49 WIB
Refleksi dan Ekspektasi: Kualitas Sumber Daya Manusia Sebagai Bangsa Merdeka?
Ilustrasi/Net
Dalam UUD 1945, setidaknya terdapat empat aspek yang merupakan cita-cita bangsa Indonesia sebagai bangsa merdeka. Yaitu mencakup melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan berbangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Dari keempat hal tersebut, satu di antaranya memegang peranan penting dari sisi keberlanjutan (sustainability) sebuah bangsa yaitu mencerdaskan kehidupan berbangsa. Jika merujuk kepada indikator tersebut, sudah sampai di manakah kita untuk mewujudkan cita-cita sebuah bangsa merdeka?

Sekretaris Jenderal Indonesian Youth Community Network (Sekjend IYCN), Muhammd Fadli Hanafi menyampaikan, kualitas sumber daya manusia merupakan outcome dari kinerja ekonomi sebuah bangsa. Ekonomi Indonesia, jauh sebelum Covid-19 melanda, tumbuh pada kisaran 5,4 persen sepanjang periode 2015 - 2019.

"Jika dirata-ratakan selama satu dekade terakhir, kontributor utama ekonomi Indonesia adalah sektor manufakur dengan rerata sebesar 21,4 persen sepanjang kuartal pertama 2020 hingga kuartal kedua 2020," ujar Fadli mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 yang disamapikan melalui keterangan tertulis yang diterima Rabu (18/8).

Kemudian Fadli juga meninjau ukuran kontribusi dari sektor lainnya. Di mana, yang memberikan kontibusi utama pada satu dekade terkahir adalah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), dengan rerata kontribusi mencapai 58,1 persen sepanjang 2010-2020, dengan serapan tenaga kerja sekitar 97 persen

"Rerata growth sektor UMKM sebesar kurang lebih 14 persen, lebih cepat dua kali jika dibandingkan rerata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,4 persen dalam satu dekade terakhir," tuturnya.

Dengan beberapa fakta di atas, Fadli mengaku tidak terkejut Indonesia hingga saat ini masih masuk dalam kategori negara menengah, yang kini mengalami penurunan kelas dari menengah atas (upper-middle) menjadi menengah bawah (lower-middle) dikarenakan pandemi Covid-19.

"Pendapatan per kapita Indonesia adalah sebesar 3.870 dolar Amerika Serikat pada periode 2020, dari yang sebelumnya sebesar 4.050 dolar Amerika Serikat di periode 2019," ucapnya.  

Sejauh mana kualitas sumber daya manusia Indonesia hingga saat ini?

Fadli Merujuk pada Data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yang menunjukkan peningkatan kualitas SDM Indonesia dari tahun ke tahun. Namun katanya, peningkatan itu kian melambat sejak tahun 2015.

"Pada periode 2015, IPM Indonesia meningkat sebesar 0,94 persen, namun pada periode 2018 dan 2019 tumbuh melambat masing-masing sebesar 0,82 persen dan 0,74 persen," paparnya.

Kemudian memasuki periode 2020, Fadli mencatat IPM Indonesia tumbuh makin lambat sebesar 0,03persen. Adapun jika ditinjau pada masing-masing komponen IPM yang mencakup pengeluaran, kesehatan, dan pendidikan, seluruhnya menunjukkan indikator peningkatan.

"Namun jika kita konfrontirkan dengan seberapa besar serapan tenaga kerja di sektor formal, maka kita akan melihat bahwa output dari sektor pendidikan inilah yang tidak optimal," katanya.

Fadli mengatakan, terdapat indikasi bahwa walaupun makin banyak yang bisa bersekolah atau berkuliah, namun makin sedikit yang benar-benar bisa bekerja untuk meningkatkan income-nya. Ada bergam penyebab yang ia temukan, baik mencakup kompetensi yang tidak mencukupi hingga tidak sesuainya kompetensi yang dimiliki dengan kebutuhan industri.

"Konsekuensinya adalah sebagian besar dari mereka akhirnya masuk ke sektor UMKM dan menjadi kontributor terbesar dalam struktur ekonomi Indonesia. Inilah refleksi dari kualitas sumber daya manusia kita dan implikasinya terhadap kinerja maupun struktur ekonomi Indonesia," sebutnya.

Fadli juga menyinggung cita-cita Indonesia pada tahun 2045 yang akan meraih masa kegemilangan, atau yang dikenal dengan Indonesia Emas 2045. Tetapi, ada yang harus dipersiapkan untuk mencapainya. Yaitu ekonomi harus tumbuh paling tidak 6,3 persen jika merujuk PPN/Bappenas.

Namun, jika berkaca pada kinerja ekonomi selama satu dekade terakhir sebelum Covid-19, Indonesia hanya mampu tumbuh di kisaran 5,4 persen. Padahal sebagai negara berkembang, Indonesia memiliki ruang yang lebih besar untuk tumbuh dibandingkan dengan negara maju.

"Pada kuartal II-2021, Indonesia tumbuh 7,07 persen pada akhirnya keluar dari resesi. Namun negara maju tumbuh lebih cepat dibandingkan Indonesia (yang pada periode normal pertumbuhan negara maju relatif lebih lambat dibandingkan negara berkembang), semisal Singapura yang tumbuh sebesar 14,3 persen, Uni Eropa sebesar 13,2 persen, dan Amerika Serikat sebesar 12,2 persen," ungkapnya.

Karena itu secara garis besar, Fadli memandang pemulihan ekonomi kuartal II-2021 terbantu oleh kinerja ekonomi negara maju mitra dagang, dan pelonggaran pembatasan sosial. Alih-alih belum benar-benar didorong oleh peningkatan kinerja sumber daya manusia dan produktivitas domestik.

Lalu bagaimana Indonesia memandang ke depan?

Ekspektasi kualitas sumber daya manusia, lanjut Fadli, harus didasarkan pada kompetensi berbasis digital dan inovatif, terlepas dari apapun bidang ilmu yang ditekuni.

"Hal ini dikarenakan sebentar lagi Indonesia dan negaranegara lain akan menyongsong Society 5.0, di mana dinamika ekonomi dan sosial akan sangat tinggi," jelasnya.

Yang kedua, Fadli menilai investasi dan akses seluas-luasnya kepada pendidikan yang berkualitas dalam jangka panjang perlu dilakukan, dan tidak hanya pada infrastruktur fisik, yang juga belum tentu bisa menghasilkan arus kas (cash flow) yang cukup untuk menanggung beban negara dalam bentuk utang di masa mendatang.

"Yang ketiga adalah peningkatan akses dan fasilitas memadai bagi usaha kecil menengah (UMKM) sebagai kontributor utama dalam perekonomian Indonesia, dikarenakan kita tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi yang cepat atau tinggi, namun juga berkelanjutan (sustainable)," tutupnya.
EDITOR: AHMAD SATRYO

ARTIKEL LAINNYA