Farah.ID
Farah.ID

Forbes Nobatkan BRI Sebagai Perusahaan Paling Bernilai Di Indonesia

LAPORAN: RAIZA ANDINI
  • Selasa, 18 Mei 2021, 10:41 WIB
Forbes Nobatkan BRI Sebagai Perusahaan Paling Bernilai Di Indonesia
Direktur Utama BRI Sunarso/Ist
Di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, BRI terus menorehkan prestasi tingkat dunia.

Yang terbaru, BRI dinobatkan oleh Forbes 2021 Global 2000 World’s Largest Public Companies sebagai perusahaan publik paling bernilai di Indonesia.

Secara keseluruhan, BRI menempati peringkat ke-362 diantara 2.000 perusahan publik terbaik di dunia.

Selain itu bank yang saat ini di nahkodai Sunarso juga masuk ke dalam daftar World Best Banks 2021 versi Forbes.

Mengutip laman resmi Forbes, terdapat enam perusahaan publik di Indonesia yang masuk dalam daftar tersebut, dan BRI menempati peringkat tertinggi diantaranya. Ini menjadikan BRI menempati posisi tertinggi untuk tujuh tahun berturut-turut.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, pencapaian itu merupakan bukti komitmen BRI yang dapat menjaga kinerja yang sustain dengan fokus pada penyelamatan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta menjadi partner strategis pemerintah dalam program pemulihan ekonomi nasional.

Daftar Global 2000: The World’s Largest Public Companies bersumber dari sistem FactSet Research yang melakukan seleksi terhadap 2.000 perusahaan publik terbesar di dunia dalam empat aspek: sales, profit, assets, dan market value.

Meskipun kondisi pasar kurang menguntungkan dan sangat menantang dikarenakan adanya pandemi Covid-19, BRI sendiri masih mampu mencatatkan kinerja yang baik.

Dari sisi penjualan, BRI berada di peringkat 1.007 dan profitabilitas berada di urutan 529, sedangkan aset di peringkat 354, dan nilai pasar berada di urutan 505.

Bank yang fokus di segmen UMKM dan berkode BBRI ini mencatatkan pendapatan sekitar 10 miliar dolar AS, aset mencapai 107,6 miliar dolar AS, dan keuntungan sebesar 1,3 miliar dolar AS.

Secara keseluruhan, dari 2.000 perusahaan yang masuk dalam daftar Forbes Global 2000 itu mengalami kenaikan kapitalisasi pasar sebesar 47 persen menjadi 79,8 triliundolar AS, dengan pendapatan turun 6 persen menjadi 39,8 triliun dolar AS, dengan keuntungan turun 24 persen menjadi 2,5 triliun dolar AS.

ARTIKEL LAINNYA