Masih Bingung Dengan SWF Indonesia, Pakar: Apakah Pasar Bisa Percaya Dengan Pemerintah Yang Korupsi?

Menteri Keuangan Sri Mulyani/Net

Sebuah gagasan yang sangat ambisius tengah digodok oleh pemerintah Indonesia, yaitu membentuk Lembaga Pengelola Investasi (LPI) yang akan mengelola sovereign wealth fund (SWF) atau dana kekayaan negara.

LPI sendiri merupakan salah satu implementasi dari Omnibus Law UU Cipta Kerja yang sudah disahkan tahun lalu. Berdasarkan PP No. 73/2020, LPI memperoleh dukungan modal awal sebesar Rp 15 triliun.

Pemerintah sendiri bertujuan untuk mengumpulkan 15 miliar dolar AS sebagai SWF, dengan 5 miliar dolar AS di antaranya dalam bentuk tunai dan saham di BUMN.

Sesuai pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani, investor sendiri memiliki fleksibilitas untuk berinvestasi di banyak portofolio, termasuk sektor listrik, jalan tol, hingga kesehatan.

Meski tampak sudah matang, tetapi sebuah seorang pakar ekonomi Asia Tenggara, James Guild mengaku masih memiliki banyak pertanyaan terkait gagasan tersebut.

Dalam artikel opininya yang dipublikasi di The Diplomat, Guild mengatakan, SWF adalah ide yang sangat ambisius yang menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawabannya.

Mengutip opini Vincent Linggi di The Jakarta Post, Guild mempertanyaan kepercayaan pasar internasional terhadap SWF Indonesia, di mana masih banyak pejabat yang melakukan korupsi.

"Pertanyaan miliaran dolar adalah apakah pasar internasional dapat memiliki kepercayaan pada SWF yang diluncurkan oleh pemerintah dengan korupsi yang relatif tinggi, defisit fiskal dan defisit minyak, rasio pajak kurang dari 11 persen, serta beban utang dalam dan luar negeri yang berat?" tanyanya.

Pasalnya, menurut Guild, desain yang diusulkan oleh Indonesia sangat berbeda dengan yang diharapkan. Bisanya, SWF sendiri akan tercipta dari negara-negara yang mengalami surpus besar, seperti Norwegia yang kaya akan minyak atau Singapura yang memiliki raksasa industri.

Temasek Holding Singapura misalnya. Itu adalah raksasa industri yang didanai oleh cadangan devisa negara. Dengan lebih dari 300 miliar dolar Singapura dalam pengelolaan aset, Temasek memiliki investasi di banyak hal. Sebut saja Telkomsel. Melalui Singtel, Temasek diketahui memiliki saham tidak langsung di perusahaan telekomunikasi raksasa Indonesia itu.

Temasek juga memegang saham mayoritas di sejumlah besar aset domestik, seperti Singapore Airlines, CapitaLand, dan MediaCorp.

"Temasek bukan hanya raksasa perusahaan di dalam negeri, tetapi menyebarkan surplus Singapura ke luar negeri untuk menciptakan nilai lebih bagi negara. Ini jelas model yang ingin ditiru Indonesia," tulis Guild.

Sayangnya, menurut Guild, Indonesia tidak memiliki surplus yang dapat diinvestasikan. Terlebih, proposal Indonesia sendiri bukan merupakan SWF dalam pengertian tradisional, tetapi negara meminta investor mengelola uang mereka.

"Tetapi mengapa investor tidak lebih baik dilayani hanya dengan membeli obligasi atau saham di BUMN perorangan, seperti perusahaan jalan tol milik negara Jasa Marga? Manfaat apa yang bisa didapat dari menciptakan gurita finansial labirin ini yang, bahkan sebelum ia muncul, sudah membingungkan orang? Saya dapat memikirkan dua alasan," lanjut Guild.

Alasan tersebut adalah pemerintah dan BUMN semakin mengkhawatirkan tingkat utang yang ada.

Selama jabatan pertama Presiden Joko Widodo, banyak uang yang dikumpulkan di pasar modal oleh BUMN dan dana khusus lainnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Itu membuat pemerintah akhirnya menambah utang yang cukup banyak.

Alasan kedua menurut Guild sendiri mengutip penjelasan akademisi Jeffrey M. Chwieroth. Dia berpendapat bahwa penyebaran SWF seperti halnya tren. Satu negara melihat kekuatan politik dan ekonomi dari SWF negara lain, dan mereka ingin menirunya.

"Saya menduga motivasi Indonesia kemungkinan berasal dari campuran keduanya," ucap Guild.

Kolom Komentar


Video

Jendela Usaha • Peluang Budidaya Ubi Jalar

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Gunung Gede Pangrango kembali terlihat lagi dari Kota Jakarta

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Melacak Tokoh Potensial 2024

Kamis, 25 Februari 2021

Artikel Lainnya

BPS: Pandemi Covid-19 Masih Bayang-bayangi Perekonomian Tanah Air
Ekbis

BPS: Pandemi Covid-19 Masih ..

01 Maret 2021 14:43
BPS Catatkan Inflasi Februari 2021 Sebesar 0,10 Persen, Kota Mamuju Paling Tinggi
Ekbis

BPS Catatkan Inflasi Februar..

01 Maret 2021 14:15
Kurang Berkembang, Teten Masduki Minta Industri Besar Gandeng UMKM
Ekbis

Kurang Berkembang, Teten Mas..

01 Maret 2021 03:26
Lebih Mudah Dan Praktis, Daftar bjb DIGI Bisa Melalui ATM
Ekbis

Lebih Mudah Dan Praktis, Daf..

28 Februari 2021 22:08
Vaksinasi Gotong Royong: Pro-Kontra, Kebingungan, Makelar, Geopolitik
Ekbis

Vaksinasi Gotong Royong: Pro..

28 Februari 2021 12:30
Lewat Surat Untuk Investor, Warren Buffett Akui Salah Perhitungan Ketika Akusisi Precision
Ekbis

Lewat Surat Untuk Investor, ..

28 Februari 2021 09:47
Bandara Purbalingga Segera Beroperasi, Sudah 2 Maskapai Tertarik Buka Rute
Ekbis

Bandara Purbalingga Segera B..

28 Februari 2021 05:35
Bayar Pajak Kendaran Otomatis, Lebih Praktis Dengan bjb T-Samsat
Ekbis

Bayar Pajak Kendaran Otomati..

27 Februari 2021 20:07