China Kirim Gelombang Kejutan Ekonomi, Industri Australia Berada Dalam Ancaman Mengerikan

Ilustrasi/Net

Duta Besar Australia untuk China, Graham Fletcher, dikabarkan akan mengunjungi China International Import Expo (CIIE)  ke-3 di Shanghai. Kunjungan itu dilakukan setelah China menghentikan tujuh kategori barang Australia dari pasar mereka.

Analis China percaya laporan kunjungan Fletcher dalam ajang yang akan digelar pada Kamis (5/11) hingga Selasa (10/11) itu mencerminkan kebutuhan Australia untuk pasar China di tengah hubungan diplomatik yang memburuk dan konsekuensi ekonominya.

Tetapi para analis juga memperingatkan bahwa kepercayaan konsumen China pada produk Australia akan turun secara signifikan jika negara itu terus menyabotase hubungan bilateral. Dan hal itu akan merugikan Australia sebagai pasar terbaik dan terbesar.

Perjalanan Fletcher terjadi setelah laporan yang disajikan Bloomberg News bahwa China telah meminta pedagang untuk berhenti membeli setidaknya tujuh kategori produk Australia, termasuk batu bara, barley, bijih tembaga dan konsentrat, gula, kayu, anggur, dan lobster. Penghentian “paling menyeluruh” akan dimulai pada hari Jumat mendatang.

Berita itu rupanya telah mengirimkan gelombang kejutan ke Australia.

Dalam sebuah artikel berjudul ‘Ketakutan akan lebih banyak larangan perdagangan yang akan datang karena China menghentikan impor kayu, lobster, jelai Australia’, ABC News mengatakan sanksi atas ekspor lobster Australia akan menimbulkan “ancaman mengerikan” bagi industri di Australia, yang biasanya mengekspor lebih dari “90 persen hasil tangkapannya ke China.”

Beberapa politisi Australia juga mendesak pemerintahnya untuk mengakui fakta bahwa tidak ada cara untuk memisahkan ekonomi Australia dari China.

Mantan Duta Besar Australia untuk China Geoff Raby menulis dalam buku barunya bahwa komplementaritas antara kedua ekonomi begitu mendalam sehingga ketergantungan ekonomi Australia pada China tidak akan berubah, kecuali warga Australia memilih untuk menerima pemotongan besar dalam standar hidup mereka.

Mantan diplomat itu mengatakan kepada The Guardian bahwa Australia akan beralih ke pasar lain itu adalah 'tidak lebih dari angan-angan'.

Chen Hong, direktur Pusat Studi Australia di East China Normal University di Shanghai, mengatakan pada hari Rabu bahwa meskipun beberapa politisi berkeinginan untuk memperbaiki hubungan tersebut, akan butuh waktu lama bagi Australia secara keseluruhan untuk sadar, katanya, seperti dkutip dari Global Time, Rabu (4/11).

Apa yang telah dilakukan pemerintah Australia sejak tahun ini dalam memelopori kampanye anti-China yang digaungkan AS dan membatasi perusahaan China telah merusak hubungan bilateral.

“Australia telah mengeluarkan pesan yang mendesak komunitas bisnis dan komunitas pendidikan internasional untuk ‘mendiversifikasi’ pasarnya, yang mendorong dan mempromosikan apa yang disebut ‘pemisahan’ dari China,” kata Chen.

Namun, decoupling tampaknya bukanlah pilihan bagi banyak perusahaan Australia, yang berusaha keras untuk menjelajahi pasar China. Tetapi apakah konsumen China menyambut komoditas Australia adalah pertanyaan lain.

Chen memperingatkan bahwa jika Australia terus menyabotase hubungan bilateral, itu akan membayar harga yang tak tertahankan.

“Kepercayaan konsumen China pada produk Australia akan turun, dan tidak ada pengganti pasar China untuk Australia. Tetapi bagi orang China, barang Australia memiliki banyak alternatif,” kata Chen.

John Ross, seorang rekan senior di Institut Chongyang untuk Studi Keuangan Universitas Renmin China, pada Selasa memperingatkan bahwa “menjadi corong untuk agresi AS terhadap China akan merugikan pendapatan Australia.”

Di akun Twitternya dia menulis bahwa China telah menjelaskan kepada Australia bahwa kepentingan mereka terletak pada hubungan damai win-win dengan Tiongkok, yang memberi Australia pekerjaan dan pendapatan, alih-alih mengikuti jalan pemerintahan saat ini, yakni melakukan Perang Dingin baru yang dipaksakan oleh AS.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Jendela Usaha • Peluang Budidaya Ubi Jalar

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Gunung Gede Pangrango kembali terlihat lagi dari Kota Jakarta

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Melacak Tokoh Potensial 2024

Kamis, 25 Februari 2021

Artikel Lainnya

BPS: Pandemi Covid-19 Masih Bayang-bayangi Perekonomian Tanah Air
Ekbis

BPS: Pandemi Covid-19 Masih ..

01 Maret 2021 14:43
BPS Catatkan Inflasi Februari 2021 Sebesar 0,10 Persen, Kota Mamuju Paling Tinggi
Ekbis

BPS Catatkan Inflasi Februar..

01 Maret 2021 14:15
Kurang Berkembang, Teten Masduki Minta Industri Besar Gandeng UMKM
Ekbis

Kurang Berkembang, Teten Mas..

01 Maret 2021 03:26
Lebih Mudah Dan Praktis, Daftar bjb DIGI Bisa Melalui ATM
Ekbis

Lebih Mudah Dan Praktis, Daf..

28 Februari 2021 22:08
Vaksinasi Gotong Royong: Pro-Kontra, Kebingungan, Makelar, Geopolitik
Ekbis

Vaksinasi Gotong Royong: Pro..

28 Februari 2021 12:30
Lewat Surat Untuk Investor, Warren Buffett Akui Salah Perhitungan Ketika Akusisi Precision
Ekbis

Lewat Surat Untuk Investor, ..

28 Februari 2021 09:47
Bandara Purbalingga Segera Beroperasi, Sudah 2 Maskapai Tertarik Buka Rute
Ekbis

Bandara Purbalingga Segera B..

28 Februari 2021 05:35
Bayar Pajak Kendaran Otomatis, Lebih Praktis Dengan bjb T-Samsat
Ekbis

Bayar Pajak Kendaran Otomati..

27 Februari 2021 20:07