Pertumbuhan Ekonomi Asia Buruk, Bank Dunia: Negara-negara Harus Investasi Dalam Perlindungan Sosial Dan Pengujian Covid-19

Pertumbuhan ekonomi di Asia Timur dan Pasifik serta China diproyeksikan hanya 0,9 persen/Net

Pertumbuhan ekonomi untuk wilayah Asia Timur dan Pasifik serta China akan berada pada angka paling lambat dalam 50 tahun teakhir.

Laporan Bank Dunia pada Senin (28/9) menunjukkan, pertumbuhan ekonomi di kawasan itu hanya akan tumbuh sebesar 0,9 persen, terendah sejak 1967.

Angka tersebut dibantu dengan pertumbuhan ekonomi China yang diperkirakan masih positif, yaitu 2 persen untuk tahun ini. Saat ini ekonomi China didorong dengan pengeluaran pemerintah, ekspor yang kuat, dan tingkat infeksi virus crona yang rendah, meski konsumsi domestik melambat.

Sementara itu, kawasan Asia Timur dan Pasifik sendiri diproyeksikan akan mengalami kontraksi hingga 3,5 persen.

"Pandemi dan upaya untuk menahan penyebarannya menyebabkan pembatasan signifikan kegiatan ekonomi," ujar Bank Dunia dalam laporan itu, seperti yang dikutip Reuters.

“Kesulitan domestik ini diperparah oleh resesi global yang dipicu pandemi, yang melanda ekonomi EAP (Asia Timur dan Pasifik) yang sangat bergantung pada perdagangan dan pariwisata,” sambungnya.

Bank Dunia menyebut, negara-negara di kawasan tersebut harus melakukan reformasi fiskal untuk memobilisasi pendapatan sebagai tanggapan terhadap dampak ekonomi dan keuangan dari pandemi. Salah satunya dengan program perlindungan sosial dari pemerintah yang dapat membantu mendukung integrasi pekerja kembali ke dalam ekonomi. 

“Negara-negara dengan program perlindungan sosial yang berfungsi dengan baik, dan infrastruktur implementasi yang baik pra-Covid, dapat meningkat lebih cepat selama pandemi,” terang Bank Dunia.

Di sisi lainnya, guncangan ekonomi dari pandemi juga memicu lonjakan angka kemiskinan. Di mana Bank Dunia mendefinisikan kemiskinan dengan pendapatan di bawah 5,50 dolar AS per hari.

Bank Dunia menyebut, angka kemiskinan dapat meluas antara 33 hingga 38 juta orang dalam 20 tahun.

Namun, 33 juta orang akan lolos dari kemiskinan jika pandemi berakhir hingga tahun ini.
.
“Kawasan ini dihadapkan pada serangkaian tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Victoria Kwakwa.

“Namun ada opsi kebijakan cerdas yang tersedia yang dapat mengurangi pengorbanan ini, seperti berinvestasi dalam pengujian dan penelusuran kapasitas dan memperluas perlindungan sosial secara berkelanjutan untuk mencakup masyarakat miskin dan sektor informal," tandasnya.

Kolom Komentar


Video

Wanita Terbakar Dalam Mobil di Sukoharjo, Diduga Korban Pembunuhan

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

DENDI RAMADHONA DAN PESAWARAN

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

Diduga Melanggar, Bawaslu Panggil Calon Bupati Semarang

Kamis, 22 Oktober 2020

Artikel Lainnya

Target Terpenuhi, China Selesai Bangun 500 Ribu BTS 5G Lebih Cepat Dari Jadwal
Ekbis

Target Terpenuhi, China Sele..

24 Oktober 2020 13:34
bank bjb Raih Penghargaan The Strongest Regional Bank
Ekbis

bank bjb Raih Penghargaan Th..

24 Oktober 2020 10:51
Pandemi, Saham Intel Jatuh
Ekbis

Pandemi, Saham Intel Jatuh

24 Oktober 2020 08:03
Survei Terbaru Pasca Debat: 70 Persen Investor Global Lebih Senang Jika Joe Biden Menang
Ekbis

Survei Terbaru Pasca Debat: ..

24 Oktober 2020 06:59
Curhat CEO Huawei: Saat Ini Kami Berada Dalam Masa Yang Sangat Sulit
Ekbis

Curhat CEO Huawei: Saat Ini ..

24 Oktober 2020 06:11
Amazon Gelontorkan Dana 100 Juta Dolar AS Untuk Memperluas Aktivitas Di Meksiko
Ekbis

Amazon Gelontorkan Dana 100 ..

23 Oktober 2020 13:47
Pemerintah Beri Stimulus PSC Di 5 Bandara, Tiket Pesawat Akan Lebih Murah
Ekbis

Pemerintah Beri Stimulus PSC..

22 Oktober 2020 22:57
Hebat, Realisasi Penyaluran Dana PEN bank bjb Lampaui Target
Ekbis

Hebat, Realisasi Penyaluran ..

22 Oktober 2020 20:10