Ekonomi China, Dua Pemulihan Yang Bertolak Belakang Pasca Pandemi

Ilustrasi/Net

Dunia telah melihat bahwa China mampu bangkit dari keterpurukannya akibat pandemi. Bahkan, China digembar-gemborkan sebagai ekonomi besar pertama yang pulih dari dampak virus corona. Namun, sebenarnya kebangkitan itu tidak merata.

Sementara pemulihan ekonomi di wilayah pesisir China sedikit meningkat pada kuartal ketiga, perusahaan-perusahaan di daerah pedalaman justru semakin  tertinggal.

Laporan dari China Beige Book International yang berbasis di AS menunjukkan bahwa mayoritas dari 3.300 perusahaan yang disurvei mengalami pemulihan yang jauh lebih lambat daripada mereka yang berada di kawasan elit, seperti di sekitar Beijing, Shanghai, dan Guangdong.

Data resmi menunjukkan bahwa ekonomi tumbuh 3,2 persen di kuartal kedua tahun 2020 dari tahun sebelumnya, setelah merosot dengan rekor 6,8 persen dalam tiga bulan pertama tahun ini.

Beberapa analis memperkirakan pertumbuhan tahun-ke-tahun lebih dari 5 persen untuk kuartal ketiga, tetapi studi tersebut menunjukkan gambaran yang lebih tidak merata di lapangan.

Pendapatan penjualan meningkat 41 persen kuartal ke kuartal untuk Shanghai dan wilayah elit di timur Zhejiang dan Jiangsu, tetapi turun 10 persen di wilayah barat yang lebih terpencil di Tibet, Gansu, Qinghai dan Xinjiang, menurut laporan itu.

Ini terjadi karena ekspor Hong Kong turun selama enam bulan berturut-turut pada Agustus, turun 2,3 persen dari tahun lalu. Tetapi mengurangi penurunan 3 persen pada Juli.

Dennis Ng Wang-pun, presiden Asosiasi Produsen China Hong Kong, memperkirakan ekspor Hong Kong akan terus mencatat penurunan satu digit dalam beberapa bulan ke depan, seperti dikutip dari The Standard, Jumat (25/9).

Sementara itu, regulator valuta asing daratan memberikan kuota baru sebesar 3,36 miliar dolar AS, di bawah skema Qualified Domestic Institutional Investor outbound untuk pertama kalinya sejak April 2019.

Selain itu, masuknya obligasi pemerintah China dalam Indeks Obligasi Pemerintah Dunia, yang dijalankan oleh FTSE Russell, diharapkan dapat membawa miliaran dolar AS ke pasar obligasi dalam negeri daratan.

Goldman Sachs memperkirakan masuknya China dapat mendorong 140 miliar dolar AS ke obligasi China daratan.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Sebelum Mbak You, Arief Poyuono Sudah Ramalkan Kalabendu

Jumat, 15 Januari 2021
Video

BINCANG SEHAT • Memandang Pandemi Dari Kacamata Relawan

Jumat, 15 Januari 2021
Video

RMOL World View • Menjaga Gawang Pertahanan Indonesia

Senin, 18 Januari 2021

Artikel Lainnya

Joe Biden Dilantik, Saham Netflix Melonjak 16 Persen
Ekbis

Joe Biden Dilantik, Saham Ne..

21 Januari 2021 08:57
Hari Ini, Lion Air Resmi Buka Penerbangan Surabaya-Berau
Ekbis

Hari Ini, Lion Air Resmi Buk..

20 Januari 2021 19:54
Maknyusnya Peluang Pasar Online Pisang Goreng, Bisa Berdayakan Masyarakat Juga
Ekbis

Maknyusnya Peluang Pasar Onl..

20 Januari 2021 17:27
Tiga Sekawan Ini Bisa Menghabiskan Lebih Dari 1 Ton Pisang Dalam Seminggu Untuk Setiap Outletnya
Ekbis

Tiga Sekawan Ini Bisa Mengha..

20 Januari 2021 16:47
Jadi Angin Segar, Kemunculan Jack Ma Bikin Saham Alibaba Langsung Meroket
Ekbis

Jadi Angin Segar, Kemunculan..

20 Januari 2021 14:31
Ekonom: Merger Gojek-Tokopedia Bantu UMKM Tetap Tumbuh Di Tengah Pandemi
Ekbis

Ekonom: Merger Gojek-Tokoped..

19 Januari 2021 15:45
MWA UI Agendakan Webinar Percepatan Pemulihan Ekonomi, Airlangga Hartarto Didaulat Pembicara Kunci
Ekbis

MWA UI Agendakan Webinar Per..

18 Januari 2021 13:25
Tidak Mau Berat Sebelah, Jokowi Minta Program Kemitraan Investasi Untungkan UMKM Dan Pengusaha Besar
Ekbis

Tidak Mau Berat Sebelah, Jok..

18 Januari 2021 12:26