Corona Masih Berlanjut, Arief Poyuono Khawatir Banyak Perusahaan Berubah Jadi "Zombie"

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono/Net

Meskipun wabah virus corona baru (Covid-19) memiliki kapasitas untuk melepaskan kekuatan inflasi baru pada ekonomi global, hal itu juga memperburuk tren disinflasi yang kuat dalam dekade terakhir.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono dalam keterangan kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (9/7).

Secara keseluruhan, Arief Poyuono memperkirakan inflasi akan terus menurunkan target bank sentral untuk periode yang berkelanjutan, menjaga tingkat kebijakan dan imbal hasil obligasi pemerintah pada tingkat yang sangat rendah.

Adapun langkah-langkah kebijakan yang diterapkan untuk mencegah penyebaran Covid-19, akan meningkatkan biaya banyak perusahaan dan merusak pasokan.

"Tetapi kami pikir krisis saat ini terutama berakar pada goncangan permintaan yang akan menekan pertumbuhan upah, margin, dan inflasi. Sementara uang adalah sebagai alat eksploitasi sumber daya alam dan manusia," ujar Arief Poyuono.

Dia skeptis bahwa dukungan yang diberikan oleh pembuat kebijakan terlalu banyak dan akan menyebabkan inflasi melonjak, atau bahwa tindakan bank sentral baru-baru ini sama dengan pembiayaan moneter.

"Kenaikan tajam dalam utang dapat meningkatkan risiko pemerintah memaksa bank sentral untuk mencetak uang untuk membiayai rencana pengeluaran, terlepas dari konsekuensi inflasi. Tapi kami pikir ini masih merupakan skenario probabilitas rendah," tutur Arief Poyuono.

Pandemik dapat melemahkan beberapa kekuatan struktural yang telah membantu menjaga pertumbuhan upah terkendali. Misalnya, masalah kesehatan dapat mengurangi partisipasi dalam angkatan kerja.

Tetapi selama dua atau tiga tahun ke depan, efek seperti itu kemungkinan akan dibanjiri oleh faktor-faktor siklus yang mendorong turunnya pertumbuhan upah.

Sementara itu, lanjut Arief Poyuono, resesi saat ini dan lonjakan utang perusahaan dapat memicu kenaikan lebih lanjut menjadikan banyak merubah perusahaan-perusahaan menjadi perusahan zombie (perusahan tidak produktif, dan tidak menguntungkan), yang juga dapat meningkatkan tekanan disinflasi.

"Akhirnya, Covid-19 dapat memperburuk kekuatan deglobalisasi dan mendorong perusahaan untuk mengatur kembali rantai pasokan. Perbaikan dalam ketahanan rantai pasokan yang relatif murah tampaknya sangat layak. Tetapi harus disesuaikan dengan skala besar dan mahal, dan dengan demikian inflasi dapat dikendalikan, kecuali dipaksakan oleh pemerintah," tutupnya.

Kolom Komentar


Video

FRONT PAGE | AHY Semakin Aduhai

Kamis, 13 Agustus 2020
Video

TANYA JAWAB CAK ULUNG | Seputar Aksi Menyelamatkan Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Erick Thohir Bocorkan Tujuan Utama Program Indonesia Tumbuh
Ekbis

Erick Thohir Bocorkan Tujuan..

15 Agustus 2020 13:29
Ekonom: Pengelolaan APBN Yang Tidak Pasti Bisa Jadi Tempat Bersembunyi Setan-setan
Ekbis

Ekonom: Pengelolaan APBN Yan..

15 Agustus 2020 13:15
Defisit Anggaran Lebih Dari 3 Persen Dalam UU Keuangan Negara Diprediksi Sampai 2024
Ekbis

Defisit Anggaran Lebih Dari ..

15 Agustus 2020 10:39
BTN Pimpin 40 Persen Pasar KPR Nasional
Ekbis

BTN Pimpin 40 Persen Pasar K..

14 Agustus 2020 19:00
Ekonomi Terjun Bebas Hingga 17,1 Persen Untuk Kuartal II, Malaysia Masih Optimis
Ekbis

Ekonomi Terjun Bebas Hingga ..

14 Agustus 2020 15:42
Konsumsi Dalam Negeri Anjlok, Pemulihan Dampak Ekonomi Covid-19 Di China Jadi Lamban
Ekbis

Konsumsi Dalam Negeri Anjlok..

14 Agustus 2020 11:03
Sektor Swasta Perlu Berkontribusi Dalam Perubahan Iklim Di Tengah Pandemik Covid-19
Ekbis

Sektor Swasta Perlu Berkontr..

14 Agustus 2020 00:57
Semangat Baru Layanan BTN Di Era Pandemi
Ekbis

Semangat Baru Layanan BTN Di..

13 Agustus 2020 17:05