Sri Mulyani: Jika Terjadi Second Wave Corona Kontraksi Ekonomi Indonesia Minus 3,9 Persen

Menteri Keungan RI, Sri Mulyani/Net

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengadu ke Komisi XI DPR RI mengenai sulitnya memproyeksikan RAPBN 2021 lantaran hantaman keras pandemik virus corona baru (Covid-19) yang membuat perubahan ekonomi nasional tidak menentu.

“Dengan kondisi Covid-19 dan pengaruhnya terhadap perekonomian kami mencoba untuk menyampaikan proyeksi dari indikator-indikator yang akan kita gunakan dalam perhitungan nota keuangan RAPBN 2021,” ujar Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI membahas KEM PKF RAPBN 2021, Gedung Nusantara I, Komplek Parlemen, Senayan, Senin (22/6).

Mantan Direktur Bank Dunia ini mengatakan, untuk tahun 2020 pemerintah telah melihat proyeksi ekonomi berada di kisaran -0,4 persen sampai dengan 1 persen.

Setelah mengalami kontraksi dahsyat akhirnya diubah akibat sentimen negatif dari virus asal Kota Wuhan, China.

“Ini karena uper endnya yang 2,3 persen kami revisi ke bawah dengan melihat kontraksi di Q2 (kuartal II). Seperti yang kami sampaikan juga dalam sidang kabinet minggu lalu sekarang fokus dari pemerintah adalah mengejar agar Q3 dan Q4 ekonominya bisa kembali pulih dari kontraksi di Q2,” paparnya.

Sri Mulyani sempat berharap kondisi ekonomi di bulan April hingga Mei sudah dalam kondisi terburuk. Sehingga dalam bulan Juni hingga Juli bisa terjadi perbaikan ekonomi dan menjadikan momentum tersebut untuk menjaga kuartal tiga dan kuartal empat.

“Inilah yang menjadi fokus pemerintah dalam menggunakan instrumen kebijakannya. Kami tentu bersama Pak Gubernur akan terus mengawal agar di Q3 dan Q4 bisa terealisir, baik di APBN  maupun moneter bisa kita jaga bersama,” katanya.

“Ini yang diharapkan bisa menimbulkan confident (percaya diri) bagi kita  untuk bisa melihat proyeksi 2021. Di mana kami memperkirakan proyeksi 2021 pertumbuhannya ada di kisaran 4,5-5,5 persen,” imbuhnya.

Menkeu dua periode ini mengatakan, jika dibandingkan dengan lembaga internasional yang melakukan estimasi terhadap perekonomian Indonesia seperti Bank Dunia, pada tahun 2020, pertumbuhan ekonomi mereka hanya 0 persen dan tahun depan akan tumbuh di angka 4,8 persen.

Namun, di Indonesia, pemerintah sendiri telah memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan -3,9 persen jika terjadi gelombang kedua Covid-19.

“OICD memperkirakan Indonesia akan negatif 3,9 persen hingga -2,8 persen , tergantung akan terjadi second hit atau tidak. Kalau terjadi second hit atau second wave maka kontraksi tahun ini diperkirakan akan -3,9 persen dan kalau tidak terjadi akan -2,8 persen. Tahun depan OICD membuat proyeksi yang range sangat luas 2,6 hingga 5,2,” tutupnya.

Kolom Komentar


Video

New Normal New Ideas

Minggu, 05 Juli 2020
Video

Bergerak Serentak, Seruan Mahasiswa Batalkan OmnibusLaw

Jumat, 10 Juli 2020
Video

Jasad ABK WNI Ditemukan di Frezeer Kapal China

Jumat, 10 Juli 2020

Artikel Lainnya

Ikan Arwana Kalimantan Siap Ekspor, Kemenko Marves Targetkan Pengiriman Dilakukan Tiap Pekan
Ekbis

Ikan Arwana Kalimantan Siap ..

13 Juli 2020 04:57
Gugatan 15 T Telkomsel Harusnya Jadi Pengakuan Industri Telekomunikasi Selama Ini Lengah
Ekbis

Gugatan 15 T Telkomsel Harus..

12 Juli 2020 19:13
Menko Airlangga Ajak UMKM Bertransformasi Menuju Ekonomi Digital
Ekbis

Menko Airlangga Ajak UMKM Be..

12 Juli 2020 13:32
Revitalisasi UMKM, Kunci Bangkitkan Ekonomi Di Tengah Pandemik
Ekbis

Revitalisasi UMKM, Kunci Ban..

12 Juli 2020 02:26
Digempur Corona, Indonesia Harus Hidupkan Kembali Ekonomi Kerakyatan
Ekbis

Digempur Corona, Indonesia H..

11 Juli 2020 12:16
Faisal Basri: Kenaikan Kelas Indonesia Berpendapatan Menengah Ke Atas Bertahan 1 Tahun
Ekbis

Faisal Basri: Kenaikan Kelas..

11 Juli 2020 03:45
Budidaya Lobster Model Keramba Dasar Cocok Bagi Perairan Berombak Besar
Ekbis

Budidaya Lobster Model Keram..

11 Juli 2020 01:46
Ada Fasilitas Permodalan, Pemerintah Minta Pelaku UMKM Daftarkan Usahanya
Ekbis

Ada Fasilitas Permodalan, Pe..

11 Juli 2020 00:35