IMF: Sulitnya Peroleh Data Akurat Indikator Ekonomi Saat Pandemik, Salah Satunya Karena Adanya Aturan Lockdown

Ilustrasi IMF/Net

Lembaga Moneter Internasional (IMF) mengakui, perhitungan data indikator ekonomi bisa saja keliru dan kurang akurat pada saat dunia harus menghadapi wabah virus corona seperti saat ini. Padahal data ekonomi sangatlah krusial.

"Data ekonomi yang tepat dan akurat menjadi sangat krusial sebagai informasi untuk keputusan kebijakan. Tapi pandemik Covid-19 telah mengganggu perhitungan dan data statistik,” pernyataan  IMF dalam postingannya di media sosial, Jumat (29/5).

Regulator tak bisa menilai seberapa parah pandemik ini telah memukul banyak orang dan perekonomian jika data tidak akurat. Ini juga menjad penyebab sulitnya proses pemulihan.

Beberapa hal yang memacu sulitnya memperoleh data akurat di tengah pandemik adalah karena keputusan lockdown. Pelaku statistik di suatu negara tak bisa banyak bergerak karena aturan diam di rumah.

Survey sulit dilakukan ketika ada aturan lockdown sementara kalkulasi harga ritel mewajibkan adanya kunjungan fisik ke toko-toko, ini salah satu contoh yang diterangkan oleh IMF.

"Survey bisnis tentang rencana produksi dan investasi juga sulit dilakukan karena banyak wilayah yang melakukan karantina, atau tidak punya sumber daya untuk menanggapi kuesioner statistik," terang IMF.

Banyak negara merilis data produk domestik bruto (PDB) pada kuartal pertama tahun ini. PDB sendiri kerap dijadikan acuan utama perekonomian suatu negara, dan jadi pegangan untuk pemerintah, bank sentral, dan pihak investor.

Pembaharuan data secara berkala juga sangat penting agar memungkinkan pembuat kebijakan mengambil keputusan yang tepat.

"Banyak pelaku statistik resmi saat ini tidak cukup berguna untuk bisa menyajikan data terkini," tegas IMF, seperti dikutip dari CNBC.

IMF mengatakan, ada sejumlah cara untuk mengatasi tantangan ini, termasuk menggunakan sumber informasi alternatif. Misalnya, data harga ritel yang tak terpantau selama masa penutupan dapat digantikan oleh patokan harga online.

Beberapa negara telah melakukan hal tersebut. Semisal Inggris, yang mulai merilis buletin mingguan dengan menggunakan indikator baru dan eksperimental, termasuk indeks harga online dan data pengiriman harian untuk mengukur imbas virus corona terhadap inflasi dan perdagangan.

"Metode pengumpulan data dan sumber data yang inovatif diperlukan untuk mengatasi gangguan data yang signifikan akibat pandemi Covid-19," imbuh IMF.

"Semakin data akurat dan tepat informasi, maka itu akan membantu negara lebih efektif untuk mengatasi dampak krisis dan mulai merencanakan proses pemulihan," pungkasnya.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Gunung Gede Pangrango kembali terlihat lagi dari Kota Jakarta

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Melacak Tokoh Potensial 2024

Kamis, 25 Februari 2021
Video

RMOL World View • Diplomasi Halal Saat Pandemi

Senin, 08 Maret 2021

Artikel Lainnya

Kampanye Cinta Produk Dalam Negeri, Indef: Ekspor Kita Rendah Dibanding Negara Tetangga
Ekbis

Kampanye Cinta Produk Dalam ..

09 Maret 2021 02:40
Proyek Strategis Nasional Smelter Kolaka Ditargetkan Rampung 2024
Ekbis

Proyek Strategis Nasional Sm..

08 Maret 2021 15:11
Ekspansi Sektor Perumahan Dongkrak 174 Sektor Ekonomi Lain
Ekbis

Ekspansi Sektor Perumahan Do..

08 Maret 2021 08:40
Teken MoU, BTN Siap Biayai Kebutuhan Rumah 6400 Karyawan Kontrak Pelindo III
Ekbis

Teken MoU, BTN Siap Biayai K..

06 Maret 2021 22:41
Indonesia Masuk Lima Besar Jumlah Startup Terbanyak Di Dunia, Tapi Erick Keluhkan Kinerja Kewirausahaan
Ekbis

Indonesia Masuk Lima Besar J..

06 Maret 2021 21:23
Rumah Kisah Manfaatkan Sistem Pengajaran Berbasis Cloud Milik KidsLoop
Ekbis

Rumah Kisah Manfaatkan Siste..

06 Maret 2021 19:20
Mantap Calonkan Ketum Kadin, Begini Jurus Arsjad Rasjid
Ekbis

Mantap Calonkan Ketum Kadin,..

06 Maret 2021 14:20
Jokowi Andalkan Bahlil Capai Target Ekonomi 5 Persen Di Tahun Ini
Ekbis

Jokowi Andalkan Bahlil Capai..

05 Maret 2021 12:07