Corona Mengancam Ekonomi Indonesia, Ekonom: Jangan Gagap, Tapi Cari Peluang

Ekonom Indef, Didik J Rachbini/Ner

Penyebaran virus corona diprediksi bakal menghambat laju perekonomian Indonesia. Sebab virus ini berpoteni membuat pertumbuhan ekonomi mitra dagang Indonesia, yakni China menurun.

Bahkan Presiden Joko Widodo secara nyata menyatakan sikap menghentikan impor bahan baku dari negeri tirai bambu ini. Akses transportasi China-Indonesia juga dihentikan sementara.

Potensi penghambatan ini juga sudah diprediksi ekonom yang juga guru besar Ekonomi Universitas Indonesia, Didik J Rachbini. Menurutnya, growth China akan merosot sebanyak satu atau dua persen. Sementara Indonesia terkoreksi kecil, yakni 0,2 persen.

Oleh karenanya, ia mewanti-wanti kepada seluruh jajaran Kabinet Indonesia Maju untuk tidak kaget menghadapi kondisi ekonomi yang tengah bergejolak ini.

"Indonesia, jangan gagap, seperti kata Presiden," ujar Didik J Rachbini saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (5/1).

Justru di tengah kondisi China yang sedang terkonsentrasi dengan penanganan virus Corona, pemerintah bisa mengambil peluang mendongkrak perekonomian dalam negeri.

Pendiri dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) ini memberi contoh riil soal peluang yang bisa dilakukan pemerintah. Salah satunya dengan meningkatkan substitusi impor barang bahan baku yang nilainya selama ini cukup besar ke China, yakni mencapai 44,57 miliar dolar Amerika Serikat.

"Peluang yang ada adalah mempersempit defisit besar neraca perdagangan dengan China. Dimana bahan baku industri yang dikeruk dan kemudian diimpor kembali oleh China, secara bertahap disubstitusikan di Indonesia sehingga industri itu mengambil bahan-bahan baku dari buminya sendiri," sambung Didik J Rachbini.

Degan demikian, sudah tidak ada lagi alasan bagi rezim saat ini untuk takut kehilangan impor barang dari China.

"Ada yang ketakutan impor dari China tidak masuk. Loh, itu kan bahan baku, entah itu gandum atau yang lain, kan bisa dibeli dari banyak negara lain. Jadi China sudah pasti haruslah ditutup (aksesnya) seperti negara lain," tandasnya.
EDITOR: DIKI TRIANTO

Kolom Komentar


Video

FRONT PAGE | AHY Semakin Aduhai

Kamis, 13 Agustus 2020
Video

TANYA JAWAB CAK ULUNG | Seputar Aksi Menyelamatkan Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Erick Thohir Bocorkan Tujuan Utama Program Indonesia Tumbuh
Ekbis

Erick Thohir Bocorkan Tujuan..

15 Agustus 2020 13:29
Ekonom: Pengelolaan APBN Yang Tidak Pasti Bisa Jadi Tempat Bersembunyi Setan-setan
Ekbis

Ekonom: Pengelolaan APBN Yan..

15 Agustus 2020 13:15
Defisit Anggaran Lebih Dari 3 Persen Dalam UU Keuangan Negara Diprediksi Sampai 2024
Ekbis

Defisit Anggaran Lebih Dari ..

15 Agustus 2020 10:39
BTN Pimpin 40 Persen Pasar KPR Nasional
Ekbis

BTN Pimpin 40 Persen Pasar K..

14 Agustus 2020 19:00
Ekonomi Terjun Bebas Hingga 17,1 Persen Untuk Kuartal II, Malaysia Masih Optimis
Ekbis

Ekonomi Terjun Bebas Hingga ..

14 Agustus 2020 15:42
Konsumsi Dalam Negeri Anjlok, Pemulihan Dampak Ekonomi Covid-19 Di China Jadi Lamban
Ekbis

Konsumsi Dalam Negeri Anjlok..

14 Agustus 2020 11:03
Sektor Swasta Perlu Berkontribusi Dalam Perubahan Iklim Di Tengah Pandemik Covid-19
Ekbis

Sektor Swasta Perlu Berkontr..

14 Agustus 2020 00:57
Semangat Baru Layanan BTN Di Era Pandemi
Ekbis

Semangat Baru Layanan BTN Di..

13 Agustus 2020 17:05