Corona Mengancam Ekonomi Indonesia, Ekonom: Jangan Gagap, Tapi Cari Peluang

Kamis, 06 Februari 2020, 01:07 WIB
Laporan: Ahmad Satryo

Ekonom Indef, Didik J Rachbini/Ner

Penyebaran virus corona diprediksi bakal menghambat laju perekonomian Indonesia. Sebab virus ini berpoteni membuat pertumbuhan ekonomi mitra dagang Indonesia, yakni China menurun.

Bahkan Presiden Joko Widodo secara nyata menyatakan sikap menghentikan impor bahan baku dari negeri tirai bambu ini. Akses transportasi China-Indonesia juga dihentikan sementara.

Potensi penghambatan ini juga sudah diprediksi ekonom yang juga guru besar Ekonomi Universitas Indonesia, Didik J Rachbini. Menurutnya, growth China akan merosot sebanyak satu atau dua persen. Sementara Indonesia terkoreksi kecil, yakni 0,2 persen.

Oleh karenanya, ia mewanti-wanti kepada seluruh jajaran Kabinet Indonesia Maju untuk tidak kaget menghadapi kondisi ekonomi yang tengah bergejolak ini.

"Indonesia, jangan gagap, seperti kata Presiden," ujar Didik J Rachbini saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (5/1).

Justru di tengah kondisi China yang sedang terkonsentrasi dengan penanganan virus Corona, pemerintah bisa mengambil peluang mendongkrak perekonomian dalam negeri.

Pendiri dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) ini memberi contoh riil soal peluang yang bisa dilakukan pemerintah. Salah satunya dengan meningkatkan substitusi impor barang bahan baku yang nilainya selama ini cukup besar ke China, yakni mencapai 44,57 miliar dolar Amerika Serikat.

"Peluang yang ada adalah mempersempit defisit besar neraca perdagangan dengan China. Dimana bahan baku industri yang dikeruk dan kemudian diimpor kembali oleh China, secara bertahap disubstitusikan di Indonesia sehingga industri itu mengambil bahan-bahan baku dari buminya sendiri," sambung Didik J Rachbini.

Degan demikian, sudah tidak ada lagi alasan bagi rezim saat ini untuk takut kehilangan impor barang dari China.

"Ada yang ketakutan impor dari China tidak masuk. Loh, itu kan bahan baku, entah itu gandum atau yang lain, kan bisa dibeli dari banyak negara lain. Jadi China sudah pasti haruslah ditutup (aksesnya) seperti negara lain," tandasnya.
EDITOR: DIKI TRIANTO

Kolom Komentar


Video

NOORCA M. MASSARDI: Ketika Harta | Puisi Hari Ini

Senin, 10 Februari 2020
Video

[FULL] | Singgung Film Avengers: Endgame, Pidato Jokowi di Parlemen Australia

Senin, 10 Februari 2020
Video

30 Tahun MURI, Bakti Sosial ke Kampung Sumur

Selasa, 11 Februari 2020