Mengapa OJK Tidak Merestui Penyuntikkan Dana dari Investor Untuk Muamalat?

The Chief Economist Forum/RMOL

Langkah-langkah penyehatan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (Bank Muamalat) masih terus dikembangkan.

Bank Muamalat memang belum terlepas dari permasalahan keuangan. Langkah penyuntikan modal dari investor dinilai perlu untuk memperbaiki kinerja perseroan.

Pada Semester I-2019, laba bersih Bank Muamalat hanya Rp5,08 miliar, anjlok 95 persen dibanding periode yang sama pada tahun lalu yang mencapai Rp103,7 miliar. Sementara berdasarkan laporan keuangan per kuartal III-2019, NPF net Bank Muamalat tercatat sebesar 4,64%. Rasio tersebut masih berada di bawah ketentuan yang ditetapkan oleh regulator yaitu di bawah 5%

Dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus dapat berperan untuk menjadi supervisi bagi industri bukan hanya menjalankan peran mengawasi. Tak hanya itu, dalam melakukan penyehatan tersebut OJK juga harus merelaksasi kebijakan perbankan syariah khususnya Bank Muamalat.

Hal tersebut disampaikan oleh Chairman Infobank Institute Eko B Supriyanto dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema ”Skenario Langkah Penyelamatan Bank Muamalat” yang diselenggarakan The Chief Economist Forum di Jakarta, Selasa (10/12).

“Pendekatan OJK harus diubah dari pengawasan jadi supervisi. OJK harus menyepakati program penguatan dalam jangka waktu tertentu. Dalan situasi sekarang yang dibutuhkan Bank Muamalat relaksasi kebijakan, misal relaksasi kredit,” kata Eko.

Eko juga mengkritisi sikap OJK yang tiba-tiba tidak merestui penyuntikan dana Rp 2 triliun dari investor Ilham Habibie beberapa waktu lalu. Menurutnya, penyuntikan modal masih diperlukan guna memperbaiki persoalan internal Bank Muamalat.

Di tempat yang sama, Ekonom Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko mengatakan, saat seperti ini mestinya OJK bisa segera mengambil tindakan.

“Menurut saya ini saatnya OJK untuk bisa mengambil tindakan sebelum siklus bisnis menyeret Bank Muamalat lebih dalam lagi, “ ujar Prasetyantoko.

Dengan kondisi yang ada sekarang ini, tindakan yang bisa diambil salah satunya dengan ada restrukturisasi under internal shareholder atau pembenahan internal. Untuk itu OJK perlu memberikan asistensi untuk membuat proposal restrukturisasi yang dapat diterima semua pihak.

“Bank Muamalat harus diselamatkan segera dengan proposal restrukturisasi yang dapat menyakinkan semua pihak termasuk regulator,” tambah Prasetyantoko.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

DIALOG JALAN SUTERA - Buka Bukaan Hubungan Indonesia China

Selasa, 13 Oktober 2020
Video

RMOL WORLD VIEW - 40 Tahun Yang Hangat, Bela Sawit Saling Menguat

Selasa, 13 Oktober 2020
Video

BINCANG SEHAT - Siap Hadapi Musim Hujan Di Tengah Pandemi Covid

Rabu, 14 Oktober 2020

Artikel Lainnya

Biaya Logistik Masih Tinggi, Pemerintah Diminta Perbanyak Pusat Logistik Berikat
Ekbis

Biaya Logistik Masih Tinggi,..

22 Oktober 2020 14:39
Beijing Tanggapi Pelarangan Produk Huawei Oleh Swedia
Ekbis

Beijing Tanggapi Pelarangan ..

22 Oktober 2020 12:14
Penyelesaian Sengketa Sawit Di WTO Tersendat Pandemik, Indonesia Maju Terus Dengan Mendorong Isu Positif
Ekbis

Penyelesaian Sengketa Sawit ..

22 Oktober 2020 07:11
IPEX Virtual BTN Sedot Dua Juta Lebih Pengunjung
Ekbis

IPEX Virtual BTN Sedot Dua J..

21 Oktober 2020 21:41
Ekspor Jam Tangan Swiss Menurun, Pasar China Jadi Harapan
Ekbis

Ekspor Jam Tangan Swiss Menu..

21 Oktober 2020 10:42
KBRI Promosikan Produk Pertanian Indonesia di Tiongkok, Termasuk Durian
Ekbis

KBRI Promosikan Produk Perta..

21 Oktober 2020 10:02
Di Tengah Pandemi, Swiss UBS Raih Laba Berkali Lipat Di Kuartal Ketiga
Ekbis

Di Tengah Pandemi, Swiss UBS..

21 Oktober 2020 08:20
Swedia Ikuti Jejak AS Singkirkan Huawei, Nokia Dan Ericsson Ketiban Untung
Ekbis

Swedia Ikuti Jejak AS Singki..

21 Oktober 2020 08:03