Arief Poyuono Ramalkan Kinerja Ekonomi Jokowi Tahun 2020 Amsiong

Arief Poyuono bersama Ibunda Presiden Joko Widodo dalam sebuah kesempatan/RMOL

Sulit bagi pemerintahan Joko Widodo mencapai pertumbuhan ekspor yang tinggi tahun depan karena komoditas serta produk manufaktur Indonesia kurang kompetitif dan sulit menghadapi produk manufaktur China.

Belum lagi China menggunakan strategi  moneter dengan melemahkan nilai mata uang RMB terhadap dolar AS  dalam rangka perang dagang.

Hal lain yang membuat Indonesia akan kesulitan, menurut Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono, adalah pelambatan ekonomi di negara-negara yang menjadi tujuan ekspor Indonesia

Arief yang pernah malang melintang di sejumlah BUMN dan pernah menjadi pramugara Merpati itu mengatakan, kesulitan ini dapat dilihat dari penurunan ekspor Indonesia sejak 2018 yang akan terus berlanjut dan membuat neraca perdagangan terus defisit.

“Selama delapan bulan di tahun 2019, ekspor Indonesia mengalami penurunan 8,28 persen menjadi 110,07 miliar dolar AS dibandingkan periode yang sama di tahun 2018,” sebutnya.

Dia juga mengingatkan, dalam hal investasi langsung, Indonesia kurang menarik dibandingkan sejumlah negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand. Indikasinya adalah relokasi 33 perusahaan China ke dua negara itu.

“Ini situasi yang menampar pemerintahan Kang Mas Jokowi yang selama ini giat dan bangga dengan investasi yang telah dicapai,” katanya dalam perbincangan dengan redaksi.

Dalam banyak kesempatan, Jokowi menyampaikan berbagai instruksi untuk memperbaiki iklim investasi melalui sejumlah rancangan undang-undang seperti ketenagakerjaan dan lahan.

Namun menurut Arief Poyuono, ada dua strategi pemerintah harus pula dikaji ulang, yakni efisiensi belanja dan pengeluaran pemerintah yang memprioritaskan belanja produk yang dibuat di dalam negeri, serta peningkatan konsumsi publik dengan program bantuan dari pemerintah seperti Kartu Siap Kerja, pembagian raskin dan lain sebagainya.

Faktor lain yang akan makin menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga di kisaran 4,7 persen pada tahun 2020 adalah pertumbuhan kredit perbankan di Indonesia masih akan terbatas hingga 2020. Para bankir harus berhati-hati untuk menawarkan pinjaman, menjaga kualitas aset mereka, dan memperkuat modal sehingga inventasi baru yang dilakukan pengusaha lokal nasional akan menurun draktis.

Di sisi lain, para pelaku bisnis harus mengencangkan ikat pinggang mereka serta bertahan dengan strategi efisiensi biaya operasional yang salah satunya adalah dengan mengurangi atau merumahkan karyawan. Akibatnya, akan banyak masyarakat yang kehilangan pendapatan dan berdampak pada penurunan daya beli mereka.

“Selama lima tahun terakhir kontribusi konsumsi publik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di kisaran 56 sampai 57 persen. Sementara itu, kontribusi pengeluaran pemerintah berada pada kisaran 12 sampai 13 persen dari PDB. Potensi perlambatan pertumbuhan konsumsi swasta sudah terlihat,” urai Arief Poyuono menjelaskan lebih lanjut.

Dia juga mengatakan, BUMN yang selama periode pertama pemerintahan Jokowi  digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pada periode kedua malah dikelola seperti parpol yang baru munas oleh Menteri BUMN Erick Thohir.

Dengan ini semua, secara umum sulit mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5 persen. Malah bisa terancam amsiong.

“Semoga ya Kang Mas, winter ekonomi global tidak membuat otak pembantu Kang Mas pada beku atau mengingil,” demikian Arief Poyuono.

Kolom Komentar


Video

BREAKING NEWS: Pasar Cepogo Boyolali Terbakar

Kamis, 17 September 2020
Video

Menguji Erick Thohir dan Jokowi, Kejanggalan Pertamina Gamblang Diurai Ahok

Jumat, 18 September 2020

Artikel Lainnya

FinCEN Files, Catatan Transaksi Miliaran Dolar
Ekbis

FinCEN Files, Catatan Transa..

21 September 2020 15:53
Genjot Transformasi Digital, BTN Bakal Akuisisi 25.000 EDC
Ekbis

Genjot Transformasi Digital,..

21 September 2020 14:37
Daya Beli Terus Menurun, Tim Ekonomi Pemerintah Gagal Selamatkan UMKM
Ekbis

Daya Beli Terus Menurun, Tim..

21 September 2020 14:27
Lolos Tahap Pertama Pemilihan Dirjen WTO, Mendag Korsel Ingin Perkuat Perdagangan Multilateral
Ekbis

Lolos Tahap Pertama Pemiliha..

21 September 2020 12:56
Dirut bank bjb Yuddy Renaldi Raih Penghargaan IMF 2020
Ekbis

Dirut bank bjb Yuddy Renaldi..

19 September 2020 16:50
WTO: Transportasi Udara Jadi Sektor Yang Paling Terdampak Covid-19
Ekbis

WTO: Transportasi Udara Jadi..

18 September 2020 18:57
Ingin Tahu Trik Promosi Digital? Yuk Ikuti  Bincang Bisnis Online bank bjb
Ekbis

Ingin Tahu Trik Promosi Digi..

17 September 2020 19:58
BTN Optimis Penyaluran Kredit Dari Dana PEN Bakal Lampaui Target
Ekbis

BTN Optimis Penyaluran Kredi..

17 September 2020 19:42