RR: Target Ekonomi Tahun 2020 Mediocre, Ngapain Jadi Presiden Lagi?

Kamis, 25 April 2019, 18:39 WIB | Laporan: Widya Victoria

Rizal Ramli/Net

Target pertumbuhan ekonomi pemerintahan Jokowi untuk tahun 2020 ternyata hanya kisaran 5,3 persen hingga 5,6 persen.

Ekonom senior, Rizal Ramli sangat menyesalkan tidak ada strategi dan inovasi baru dari pemerintahan Jokowi.

"Nyaris sama dengan kinerja Jokowi 4,5 tahun terakhir, nyungsep di lima persen. Itu betul-betul pas-pasan," ujar mantan Anggota Tim Panel Penasihat Ekonomi Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) ini.

"Hanya business as usual, sekedar numpang lewat doang," cetus Rizal Ramli lebih lanjut.

Sebab, jelas Rizal Ramli, rencana ekonomi 2020 yang mediocre tersebut juga akan masih dihantui dengan utang yang kian membesar dengan yield sekitar 8 persen, salah satu tertinggi di kawasan.

"Saat ini utang pemerintah pusat sudah Rp 4.567 triliun (Februari 2019). Cicilan bunga utang Rp 70,6 triliun, akhir Maret 2019," Rizal mencatat.

Rencana ekonomi 2020 yang dalam istilahnya mediocre itu juga akan meneruskan Trio-Deficits yaitu, defisit Neraca Perdagangan sebesar 193 juta dolar AS (Q1-2019), defisit transaksi berjalan minus 9,1 miliar dolar AS, dan defisit APBN yang di Q1-2019 sudah tembus Rp 102 triliun.

Sementara ini, ia melihat tidak ada strategi dan blue print yang jelas untuk mengurangi Trio-Deficits tersebut.

"Mungkin karena sudah terkesima dengan gembar-gembor 'dongeng' keberhasilan ekonomi. Kalau terlalu sering mendongeng akhirnya tertipu sendiri dengan 'dongeng' palsu itu," sindir Rizal.

Rizal Ramli menyebutnya sebagai korban kampanye post truth. Padahal korban sesungguhnya adalah rakyat yang hidupnya semakin susah, dengan daya beli yang terus merosot.

"Lho kalau gitu ngapain mau jadi presiden lagi? Kok tega-teganya sekedar menghabiskan waktu tanpa perbaikan kinerja ekonomi, dan tanpa perbaikan nasib rakyat Indonesia? Sekedar melanjutkan kinerja ekonomi yang mediocre dan business as usual itu pun pas-pasan," kritik mantan menteri perekonomian ini.

Itulah mengapa ia setuju diperlukan perubahan agar pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, daya beli rakyat meningkat, lebih banyak lapangan kerja, dan upah meningkat.

"Tidak bisa sekedar melanjutkan ekonomi yang mediocre ini, yang dalam ‘dongeng’ tapi sulit dalam kenyataan. Tidak bisa sekedar hanya meneruskan business as usual," tegasnya.

Rizal Ramli pun meminta pemerintahan baru yang akan dilantik Oktober 2019 nanti harus segera membongkar dan memperbaiki RAPBN 2020 mediocre itu. Dengan harapan, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat tercapai lebih tinggi.

Termasuk, sambung Rizal Ramli, merumuskan strategi agar resiko ekonomi Indonesia berkurang dengan cepat, mengubah strategi perdagangan dan industri yang lebih bermanfaat dan unggul. Di samping itu juga merumuskan strategi dan blue print agar kesejahteraan rakyat meningkat sejalan dengan peningkatan kedaulatan pangan, energi, air dan keuangan periode 2020-2024.

Kolom Komentar


loading